Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

DARI GRUB WA KE ATAS MIMBAR : SEBUAH PELAJARAN TENTANG KOMUNIKASI

Gambar
Disclaimer : Saya sebenarnya ingin menanggapi langsung diTKP tetapi karena ini bulan Ramadan, saya memilih diam Saya juga bisa saja menelepon atau berbicara langsung dengan saudara pengurus tapi saya rasa itu kurang tepat karena saudara pengurus sendiri membahas itu didapan forum yang disaksikan banyak orang . Pekan lalu saya hanya bertanya di grup WA Muhammadiyah. Ada tulisan yang mengatakan, “ Jangan sampai masjid dipegang oleh orang lain .” Saya lalu bertanya: yang dimaksud “orang lain” itu siapa? Apakah orang yang sekarang memegang kunci masjid? Karena setahu saya, beliau bukan warga Muhammadiyah dan berasal dari jemaah luar Muhammadiyah . Atas pertanyaan itu, pengurus sebenarnya sudah menjawab bahwa saudara yang memegang kunci tersebut adalah simpatisan dan sudah terdaftar di MPKS . Dengan jawaban itu, saya menganggap sudah ada penjelasan. Namun ada tulisan lain yang menanggapi pertanyaan saya, pertanyaan itu justru dianggap menyerang. dan membalas dengan mempertanyak...

SEJARAH BERDIRINYA MASJID TAQWA KELURAHAN TERJUN (BAGIAN 2)

KRONOLOGIS PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGANMASJID TAQWA MUHAMMADIYAH RANTING KELURAHAN TERJUN

SEJARAH BERDIRINYA MASJID TAQWA KELURAHAN TERJUN (BAGIAN 1)

KRONOLOGIS PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN MASJID TAQWA MUHAMMADIYAH RANTING KELURAHAN TERJUN 1. Kondisi Awal (2001) Pada tahun 2001, Lingkungan X Jalan Abdul Sani Muthalib, Kelurahan Terjun, belum memiliki mushollah sebagai sarana ibadah umat Islam. Sementara itu, di Lingkungan IX telah berdiri dua mushollah, yaitu Mushollah Al-Ikhlas di Jalan Monel Anwar dan Mushollah Ar-Royan di Gang Manggis. Kondisi tersebut melatarbelakangi munculnya gagasan untuk menghadirkan tempat ibadah yang lebih dekat dan mudah dijangkau oleh warga Lingkungan X. 2. Munculnya Gagasan dan Tantangan Awal Gagasan pembangunan mushollah diprakarsai oleh Ilham Damanik, warga Lingkungan X, yang mengajak masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan sarana ibadah tersebut. Tujuan pembangunan tidak hanya untuk memudahkan pelaksanaan sholat berjamaah, tetapi juga sebagai pusat pembinaan generasi muda serta kegiatan keagamaan masyarakat. Namun pada tahap awal, dukungan masyarakat masih terbatas. Sebagian warga menilai rencana t...

KETIKA IDENTITAS MENGGESER ARGUMEN

Ketika Identitas Menggeser Argumen Dalam sebuah diskusi, yang semestinya menjadi pusat perhatian adalah gagasan, data, dan alur berpikir yang dibangun. Namun tidak jarang, pembahasan yang seharusnya substantif justru berbelok ketika identitas pribadi mulai dipertanyakan. Di titik itulah argumen perlahan tersingkir, dan identitas mengambil alih ruang dialog. Pertanyaan seperti, “ Sudah Muhammadiyah kali kah Anda? ” pada dasarnya tidak menjawab pokok persoalan yang sedang dibicarakan. Ia tidak memperkuat atau melemahkan isi argumen. Yang terjadi justru pergeseran fokus: dari apa yang dibahas, menjadi siapa yang berbicara. Dalam logika diskusi, pergeseran seperti ini melemahkan kualitas percakapan karena ukuran kebenaran tidak lagi ditimbang dari substansi, melainkan dari atribut personal. Lebih jauh lagi, “kemuhammadiyahan” seseorang bukanlah sesuatu yang memiliki alat ukur baku dalam ruang diskusi. Jika yang dimaksud adalah status administratif, maka indikator formalnya hanyalah kartu...

KONTRIBUSI DAN SIKAP DALAM ORGANISASI

Tentang Kontribusi dan Sikap Kita Bersama Setiap organisasi memerlukan anggaran sebagai penopang program dan keberlanjutan kegiatan. Anggaran tersebut bersumber dari kontribusi para anggota, sesuai dengan kemampuan dan kelapangan masing-masing. Perlu dipahami bahwa kontribusi tidak selalu identik dengan besarnya nominal. Setiap anggota memiliki kondisi, tanggung jawab, dan kapasitas yang berbeda. Karena itu, besar kecilnya angka tidak sepantasnya menjadi tolok ukur kepedulian. Belakangan ini muncul kecenderungan untuk menilai atau memberi label terhadap kontribusi yang dianggap “kurang”. Sikap demikian perlu kita evaluasi bersama. Mengukur kepedulian hanya dari nominal berisiko melahirkan prasangka dan mengikis semangat kebersamaan. Dalam nilai-nilai keislaman, amal ditimbang dari niat dan keikhlasan. Maka menjaga adab dalam berbicara serta menahan diri dari penilaian sepihak adalah bagian dari kedewasaan berorganisasi. 📝 Catatan Redaksi: Organisasi akan tumbuh kuat bukan hanya karena...