KETIKA IDENTITAS MENGGESER ARGUMEN
Ketika Identitas Menggeser Argumen
Dalam sebuah diskusi, yang semestinya menjadi pusat perhatian adalah gagasan, data, dan alur berpikir yang dibangun. Namun tidak jarang, pembahasan yang seharusnya substantif justru berbelok ketika identitas pribadi mulai dipertanyakan. Di titik itulah argumen perlahan tersingkir, dan identitas mengambil alih ruang dialog.
Pertanyaan seperti, “Sudah Muhammadiyah kali kah Anda?” pada dasarnya tidak menjawab pokok persoalan yang sedang dibicarakan. Ia tidak memperkuat atau melemahkan isi argumen. Yang terjadi justru pergeseran fokus: dari apa yang dibahas, menjadi siapa yang berbicara. Dalam logika diskusi, pergeseran seperti ini melemahkan kualitas percakapan karena ukuran kebenaran tidak lagi ditimbang dari substansi, melainkan dari atribut personal.
Lebih jauh lagi, “kemuhammadiyahan” seseorang bukanlah sesuatu yang memiliki alat ukur baku dalam ruang diskusi. Jika yang dimaksud adalah status administratif, maka indikator formalnya hanyalah kartu tanda anggota. Namun kepemilikan kartu anggota tidak otomatis menjadi ukuran kedalaman pemahaman, kualitas kontribusi, atau kesungguhan dalam mengamalkan nilai-nilai perjuangan. Sebaliknya, seseorang yang tidak tercatat secara administratif pun bisa saja memiliki komitmen dan pemahaman yang kuat.
Perlu disadari bahwa Muhammadiyah adalah sarana perjuangan, bukan tujuan akhir. Ia merupakan kendaraan untuk menumbuhkan ketakwaan dan menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Substansi yang hakiki tetaplah keislaman itu sendiri—tauhid, akhlak, ibadah, dan kemaslahatan umat. Organisasi adalah instrumen; nilai Islam adalah fondasi dan arah.
Karena itu, dalam diskusi yang sehat, yang seharusnya diuji adalah kekuatan gagasan dan konsistensi berpikir, bukan identitas atau afiliasi. Ketika identitas berhenti menjadi label dan kembali ditempatkan sebagai sarana, maka dialog akan kembali kepada tujuannya: mencari kebenaran dan memperkuat kebaikan bersama.
Pada akhirnya, yang bernilai bukanlah seberapa kuat kita mempertahankan label, tetapi seberapa jujur kita menjaga substansi.
Komentar
Posting Komentar